Jumat, 28 Februari 2014

Sekolah, Bukan untuk Bekerja!

Diposting oleh Unknown di 04.01
Pekerjaan sepertinya menjadi jawaban atas keresahan umum dari pengangguran. Memberikan sebuah jaminan kesejahteraan yang diidamkan. Setidaknya menjadi titik aman untuk stok kebutuhan. Serta menyuguhkan pelbagai iming – iming lain untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup seseorang. Tak bisa di elakkan, sekolah pun menjadi sasaran empuk menuju  sebuah pekerjaan.
Dalam keadaan kebutuhan yang kian membesar, diiringi harga kebutuhan makin naik, tak bisa di pungkiri adanya pekerjaan menjadi sebuah jawaban. Pertimbangan terletak pada modal yang dimiliki. Jika dengan skill orang mampu bekerja, berbeda dengan penjual atau pebisnis harus dengan material yang nyata.
Penanggulangan atas kebutuhan masyarakat sedikit diatasi dengan sebuah pekerjaan. Untuk bisa bekerja tentu harus dengan modal skill.  Kemudian muncul berbagai alternatif pencari kerja dengan pendidikan. Sekolah menengah kejuruan, kursusa, bahkan sampai sekolah yang menjamin lulusannya disalurkan langsung bekerja. Disinilah permasalahan yang harus kita kupas. Mari kita pahami sekolah atau lembaga tersebut.
Dalam realitasnya, sekolah maupun lembaga yang berperan untuk memberi solusli tersebut tidak pernah mengajari bagaimana dan seperti apa kerja di perusahaan. Sekolah atau lembaga tersebut hanya memberikan bekal “skill” kita agar kita mampu bekerja disuatu perusahaan. Dengan skill yang diajarkan hal ini akan memudahkan mereka mencari pekerjaan. Lalu kaitanya dengan lembaga yang menjamin siswanya langsung bekerja bagaimana? Tentunya sama, mereka hanya memberikan skill dan kemampuan saja. Kalau kemudian sampai diartikan lembaga pendidikan yang menjamin siswanya langsung bekerja, itupun karena dari sana telah ada sebuah “link” atau relasi suatu perusahaan. Garis besarnya adalah kerjasama.
Dengan adanya kerja sama antara lembaga pendidikan, maka lulusannya kemudian akan disalurkan ke perusahaan yang sudah bekerja sama. Tentunya dengan skill yang diberikan lembaga tersebut kepada siswa dan terbukti diperusahaan mampu bekerja dengan baik. Hal ini tentu ada sebuah simbiosis mutualisme. Hal ini pula yang menjadi solusi bagi para pencari ilmu yang berasumsi diatas berbondong bondong masuk kedalam lembaga tersebut. Semakin banyaknya peminat, semakin membuka peluang bagi yang lain untuk membuka lembaga tersebut.
Letak permasalahannya mungkin asumsi awal bahwa pendidikan sebagi jaminan bekerja. Alurnya menjadi, orang mencari pendidikan sebagai alternatif mencari kerja, lembaga makin membuka pendidikan basicnya kerja, lembaga bekerja sama dengan sebuah perusahaan, baru orang bekerja. Tapi kalau kita mau melihat sisi yang harus bisa untuk bekerja ada tiga macam, pertama skill atau kemampuan, link atau penghubung, kemudian pendidikan. Disegala lini tentu pendidikan menyertai.
Basis pertama orang bisa bekerja adalah tentu mempunyai kemampuan. Mampu bekerja, tentu disertai pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan yang menawarkan jaminan kerja hanya memberikan skill untuk bekerja. Misal kita bekerja disuatu pabrik motor, lembaga hanya mengajari motor itu apa, mesin-mesinnya, serta trouble shootingnya. Di perusahaan sendiri, kadang hanya bekerja memasang baut-baut motor saja. Sekecil itupun harus membutuhkan skill dan pendidikan.
Kedua adalah link atau hubungan. Dengan jalinan kerja sama yang erat sebuah lembaga akan mudah menawarkan jasa pekerja kepada sebuah perusahaan. Dengan kata lain kita hanya membutuhkan chanel supaya masuk kedalam perusahaan jika mau bekerja. Makanya tidak mengherankan kemudian lulusan kejuruan masih harus ditampung di sebuah yayasan untuk membantu mereka dapat bekerja. Yang ketiga adalah pendidikan. Semua lini membutuhkan pendidikan. Skil erat hubungannya dengan pendidikan. Kita punya kenalan atau hububungan diperusahan, jika tanpa pendidikan pun tak akan bisa bekerja. Kita mempunyai pendidikan, tapi tidak mempunyai kemampuan, tidak ada link pun akan sangat susah untuk masuk sebuah perusahaan.
Dengan analisis diatas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa untuk bisa bekerja bukan berarti pendidikan menjadi kemutlakan menuju pekerjaan tersebut. Tetapi pendidikan itu justru memberikan bekal kemampuan pada diri kita. Namun kenapa potensi yang kita miliki kemudian disalurkan untuk sebuah pekerjaan?

0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 28 Februari 2014

Sekolah, Bukan untuk Bekerja!

Diposting oleh Unknown di 04.01
Pekerjaan sepertinya menjadi jawaban atas keresahan umum dari pengangguran. Memberikan sebuah jaminan kesejahteraan yang diidamkan. Setidaknya menjadi titik aman untuk stok kebutuhan. Serta menyuguhkan pelbagai iming – iming lain untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup seseorang. Tak bisa di elakkan, sekolah pun menjadi sasaran empuk menuju  sebuah pekerjaan.
Dalam keadaan kebutuhan yang kian membesar, diiringi harga kebutuhan makin naik, tak bisa di pungkiri adanya pekerjaan menjadi sebuah jawaban. Pertimbangan terletak pada modal yang dimiliki. Jika dengan skill orang mampu bekerja, berbeda dengan penjual atau pebisnis harus dengan material yang nyata.
Penanggulangan atas kebutuhan masyarakat sedikit diatasi dengan sebuah pekerjaan. Untuk bisa bekerja tentu harus dengan modal skill.  Kemudian muncul berbagai alternatif pencari kerja dengan pendidikan. Sekolah menengah kejuruan, kursusa, bahkan sampai sekolah yang menjamin lulusannya disalurkan langsung bekerja. Disinilah permasalahan yang harus kita kupas. Mari kita pahami sekolah atau lembaga tersebut.
Dalam realitasnya, sekolah maupun lembaga yang berperan untuk memberi solusli tersebut tidak pernah mengajari bagaimana dan seperti apa kerja di perusahaan. Sekolah atau lembaga tersebut hanya memberikan bekal “skill” kita agar kita mampu bekerja disuatu perusahaan. Dengan skill yang diajarkan hal ini akan memudahkan mereka mencari pekerjaan. Lalu kaitanya dengan lembaga yang menjamin siswanya langsung bekerja bagaimana? Tentunya sama, mereka hanya memberikan skill dan kemampuan saja. Kalau kemudian sampai diartikan lembaga pendidikan yang menjamin siswanya langsung bekerja, itupun karena dari sana telah ada sebuah “link” atau relasi suatu perusahaan. Garis besarnya adalah kerjasama.
Dengan adanya kerja sama antara lembaga pendidikan, maka lulusannya kemudian akan disalurkan ke perusahaan yang sudah bekerja sama. Tentunya dengan skill yang diberikan lembaga tersebut kepada siswa dan terbukti diperusahaan mampu bekerja dengan baik. Hal ini tentu ada sebuah simbiosis mutualisme. Hal ini pula yang menjadi solusi bagi para pencari ilmu yang berasumsi diatas berbondong bondong masuk kedalam lembaga tersebut. Semakin banyaknya peminat, semakin membuka peluang bagi yang lain untuk membuka lembaga tersebut.
Letak permasalahannya mungkin asumsi awal bahwa pendidikan sebagi jaminan bekerja. Alurnya menjadi, orang mencari pendidikan sebagai alternatif mencari kerja, lembaga makin membuka pendidikan basicnya kerja, lembaga bekerja sama dengan sebuah perusahaan, baru orang bekerja. Tapi kalau kita mau melihat sisi yang harus bisa untuk bekerja ada tiga macam, pertama skill atau kemampuan, link atau penghubung, kemudian pendidikan. Disegala lini tentu pendidikan menyertai.
Basis pertama orang bisa bekerja adalah tentu mempunyai kemampuan. Mampu bekerja, tentu disertai pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan yang menawarkan jaminan kerja hanya memberikan skill untuk bekerja. Misal kita bekerja disuatu pabrik motor, lembaga hanya mengajari motor itu apa, mesin-mesinnya, serta trouble shootingnya. Di perusahaan sendiri, kadang hanya bekerja memasang baut-baut motor saja. Sekecil itupun harus membutuhkan skill dan pendidikan.
Kedua adalah link atau hubungan. Dengan jalinan kerja sama yang erat sebuah lembaga akan mudah menawarkan jasa pekerja kepada sebuah perusahaan. Dengan kata lain kita hanya membutuhkan chanel supaya masuk kedalam perusahaan jika mau bekerja. Makanya tidak mengherankan kemudian lulusan kejuruan masih harus ditampung di sebuah yayasan untuk membantu mereka dapat bekerja. Yang ketiga adalah pendidikan. Semua lini membutuhkan pendidikan. Skil erat hubungannya dengan pendidikan. Kita punya kenalan atau hububungan diperusahan, jika tanpa pendidikan pun tak akan bisa bekerja. Kita mempunyai pendidikan, tapi tidak mempunyai kemampuan, tidak ada link pun akan sangat susah untuk masuk sebuah perusahaan.
Dengan analisis diatas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa untuk bisa bekerja bukan berarti pendidikan menjadi kemutlakan menuju pekerjaan tersebut. Tetapi pendidikan itu justru memberikan bekal kemampuan pada diri kita. Namun kenapa potensi yang kita miliki kemudian disalurkan untuk sebuah pekerjaan?

0 komentar on "Sekolah, Bukan untuk Bekerja!"

Posting Komentar

 

selamat datang sobat Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei