Pekerjaan sepertinya menjadi jawaban atas
keresahan umum dari pengangguran. Memberikan sebuah jaminan
kesejahteraan yang diidamkan. Setidaknya menjadi titik aman untuk stok
kebutuhan. Serta menyuguhkan pelbagai iming – iming lain untuk memenuhi
tuntutan kebutuhan hidup seseorang. Tak bisa di elakkan, sekolah pun
menjadi sasaran empuk menuju sebuah pekerjaan.
Dalam
keadaan kebutuhan yang kian membesar, diiringi harga kebutuhan makin
naik, tak bisa di pungkiri adanya pekerjaan menjadi sebuah jawaban.
Pertimbangan terletak pada modal yang dimiliki. Jika dengan skill orang
mampu bekerja, berbeda dengan penjual atau pebisnis harus dengan
material yang nyata.
Penanggulangan
atas kebutuhan masyarakat sedikit diatasi dengan sebuah pekerjaan.
Untuk bisa bekerja tentu harus dengan modal skill. Kemudian muncul
berbagai alternatif pencari kerja dengan pendidikan. Sekolah menengah
kejuruan, kursusa, bahkan sampai sekolah yang menjamin lulusannya
disalurkan langsung bekerja. Disinilah permasalahan yang harus kita
kupas. Mari kita pahami sekolah atau lembaga tersebut.
Dalam
realitasnya, sekolah maupun lembaga yang berperan untuk memberi solusli
tersebut tidak pernah mengajari bagaimana dan seperti apa kerja di
perusahaan. Sekolah atau lembaga tersebut hanya memberikan bekal “skill”
kita agar kita mampu bekerja disuatu perusahaan. Dengan skill yang
diajarkan hal ini akan memudahkan mereka mencari pekerjaan. Lalu
kaitanya dengan lembaga yang menjamin siswanya langsung bekerja
bagaimana? Tentunya sama, mereka hanya memberikan skill dan kemampuan
saja. Kalau kemudian sampai diartikan lembaga pendidikan yang menjamin
siswanya langsung bekerja, itupun karena dari sana telah ada sebuah
“link” atau relasi suatu perusahaan. Garis besarnya adalah kerjasama.
Dengan
adanya kerja sama antara lembaga pendidikan, maka lulusannya kemudian
akan disalurkan ke perusahaan yang sudah bekerja sama. Tentunya dengan
skill yang diberikan lembaga tersebut kepada siswa dan terbukti
diperusahaan mampu bekerja dengan baik. Hal ini tentu ada sebuah
simbiosis mutualisme. Hal ini pula yang menjadi solusi bagi para pencari
ilmu yang berasumsi diatas berbondong bondong masuk kedalam lembaga
tersebut. Semakin banyaknya peminat, semakin membuka peluang bagi yang
lain untuk membuka lembaga tersebut.
Letak
permasalahannya mungkin asumsi awal bahwa pendidikan sebagi jaminan
bekerja. Alurnya menjadi, orang mencari pendidikan sebagai alternatif
mencari kerja, lembaga makin membuka pendidikan basicnya kerja, lembaga
bekerja sama dengan sebuah perusahaan, baru orang bekerja. Tapi kalau
kita mau melihat sisi yang harus bisa untuk bekerja ada tiga macam,
pertama skill atau kemampuan, link atau penghubung, kemudian pendidikan.
Disegala lini tentu pendidikan menyertai.
Basis
pertama orang bisa bekerja adalah tentu mempunyai kemampuan. Mampu
bekerja, tentu disertai pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan
yang menawarkan jaminan kerja hanya memberikan skill untuk bekerja.
Misal kita bekerja disuatu pabrik motor, lembaga hanya mengajari motor
itu apa, mesin-mesinnya, serta trouble shootingnya. Di perusahaan
sendiri, kadang hanya bekerja memasang baut-baut motor saja. Sekecil
itupun harus membutuhkan skill dan pendidikan.
Kedua
adalah link atau hubungan. Dengan jalinan kerja sama yang erat sebuah
lembaga akan mudah menawarkan jasa pekerja kepada sebuah perusahaan.
Dengan kata lain kita hanya membutuhkan chanel supaya masuk kedalam
perusahaan jika mau bekerja. Makanya tidak mengherankan kemudian lulusan
kejuruan masih harus ditampung di sebuah yayasan untuk membantu mereka
dapat bekerja. Yang ketiga adalah pendidikan. Semua lini membutuhkan
pendidikan. Skil erat hubungannya dengan pendidikan. Kita punya kenalan
atau hububungan diperusahan, jika tanpa pendidikan pun tak akan bisa
bekerja. Kita mempunyai pendidikan, tapi tidak mempunyai kemampuan,
tidak ada link pun akan sangat susah untuk masuk sebuah perusahaan.
Dengan
analisis diatas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa untuk bisa bekerja
bukan berarti pendidikan menjadi kemutlakan menuju pekerjaan tersebut.
Tetapi pendidikan itu justru memberikan bekal kemampuan pada diri kita.
Namun kenapa potensi yang kita miliki kemudian disalurkan untuk sebuah
pekerjaan?


0 komentar:
Posting Komentar